Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, DPR Tekankan Pentingnya Diplomasi Kepala Negara

Anggota DPR RI, Syafruddin. (Foto: Herdi/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Timur

    Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, DPR Tekankan Pentingnya Diplomasi Kepala Negara

    PusaranMedia.com

    Anggota DPR RI, Syafruddin. (Foto: Herdi/Pusaranmedia.com)

    Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, DPR Tekankan Pentingnya Diplomasi Kepala Negara

    Anggota DPR RI, Syafruddin. (Foto: Herdi/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Herdiansyah l Editor: Bambang Irawan 

    SAMARINDA - Anggota DPR RI, Syafruddin, mendorong Presiden RI Prabowo Subianto untuk mengambil peran langsung dalam upaya diplomasi dengan pemerintah Iran terkait tertahannya kapal tanker milik Pertamina di kawasan Selat Hormuz.

    Menurutnya, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang tengah memanas tidak dapat diselesaikan hanya melalui jalur teknis kementerian. Ia menilai, komunikasi tingkat tinggi antar kepala negara menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

    “Saya kira masalah kapal Pertamina memerlukan lobi langsung dari Presiden. Tidak cukup hanya Menteri ESDM, Menteri Luar Negeri, atau pejabat di bawahnya,” kata Syafruddin.

    Sebelumnya, diketahui dua kapal tanker Pertamina dilaporkan tertahan akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut, termasuk kebijakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

    Syafruddin menegaskan, bahwa Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi kawasan tersebut, sehingga gangguan yang terjadi tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga terhadap stabilitas energi internasional.

    Oleh karena itu, ia menilai keterlibatan langsung Presiden akan memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai negara non-blok yang memiliki hubungan baik dengan berbagai pihak, termasuk Iran.

    "Penting dilakukan pendekatan multilateral di tengah situasi konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut," tegasnya. 

    Syafruddin menilai persoalan ini harus menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk mempercepat strategi diversifikasi pasokan energi, guna mengurangi ketergantungan pada jalur distribusi yang rawan konflik.