Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

PMII Kaltim Kritik Gaya Komunikasi Rudy Mas’ud yang Sering Blunder 

Ketua PKC PMII Kaltim, Muhammad Said Abdillah Kritik Gaya Komunikasi Rudy Mas’ud. (Foto: Herdi/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Timur

    PMII Kaltim Kritik Gaya Komunikasi Rudy Mas’ud yang Sering Blunder 

    PusaranMedia.com

    Ketua PKC PMII Kaltim, Muhammad Said Abdillah Kritik Gaya Komunikasi Rudy Mas’ud. (Foto: Herdi/Pusaranmedia.com)

    PMII Kaltim Kritik Gaya Komunikasi Rudy Mas’ud yang Sering Blunder 

    Ketua PKC PMII Kaltim, Muhammad Said Abdillah Kritik Gaya Komunikasi Rudy Mas’ud. (Foto: Herdi/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Herdiansyah l Editor: Bambang Irawan 

    SAMARINDA - Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kaltim menyoroti komunikasi publik Gubernur Rudy Mas’ud, yang dinilai kerap blunder dan belum mampu memberikan kepastian informasi kepada masyarakat.

    Dalam pernyataan yang disampaikan saat aksi, massa menilai komunikasi yang dibangun oleh gubernur masih minim dan belum mencerminkan kapasitas sebagai kepala daerah.

    Mereka menyebut, penyampaian informasi kepada publik seharusnya dilakukan secara jelas, terarah, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

    “Kami melihat komunikasi publik yang disampaikan masih belum maksimal dan cenderung menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat,” kata Ketua PKC PMII Kaltim, Muhammad Said Abdillah,

    PMII bahkan menyarankan agar Gubernur Rudy Mas’ud meningkatkan kemampuan komunikasi publik, baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan khusus public speaking.

    Menurut mereka, kemampuan komunikasi menjadi hal mendasar bagi seorang pemimpin daerah.

    Lebih lanjut, ia menilai latar belakang pendidikan tinggi yang dimiliki gubernur belum sejalan dengan kualitas komunikasi yang ditampilkan di ruang publik.

    “Dengan gelar akademik yang dimiliki, seharusnya komunikasi publik bisa lebih baik. Namun yang dirasakan masyarakat justru sebaliknya,” ungkapnya.

    Ia juga menekankan pentingnya sikap terbuka dan kesediaan untuk mendengar aspirasi masyarakat. Menurutnya, seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk berbicara, tetapi juga mampu menyampaikan pesan secara bijak.

    “Gubernur harus lebih banyak belajar dan mendengar. Jika tidak bisa menyampaikan sesuatu dengan baik, lebih baik menahan diri agar tidak menimbulkan polemik,” tegasnya.