Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Cuaca di Madinah Capai 43 Derajat, Jemaah Lansia di  Kloter 7 Kaltara tak Diizinkan Turun dari Bus di Area Bir Ali

Kloter 7 Embarkasi Balikpapan Kaltara. (Foto: H Sayid Abdullah)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Utara

    Cuaca di Madinah Capai 43 Derajat, Jemaah Lansia di  Kloter 7 Kaltara tak Diizinkan Turun dari Bus di Area Bir Ali

    PusaranMedia.com

    Kloter 7 Embarkasi Balikpapan Kaltara. (Foto: H Sayid Abdullah)

    Cuaca di Madinah Capai 43 Derajat, Jemaah Lansia di  Kloter 7 Kaltara tak Diizinkan Turun dari Bus di Area Bir Ali

    Kloter 7 Embarkasi Balikpapan Kaltara. (Foto: H Sayid Abdullah)

    Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan

    NUNUKAN — Sebanyak 358 jemaah haji asal Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang tergabung dalam Kloter 7 Embarkasi Balikpapan mulai bergerak dari Madinah menuju Kota Suci Makkah untuk melaksanakan umrah wajib.

    Ketua Kloter 7 Embarkasi Balikpapan, H Sayid Abdullah, mengatakan rombongan bertolak dari Madinah pada sore hari waktu Arab Saudi dan dijadwalkan tiba di Makkah pada malam hari.

    “Alhamdulillah, jemaah haji asal Kaltara saat ini sedang dalam perjalanan menuju Makkah untuk melaksanakan umrah wajib. Perjalanan dimulai sekitar pukul 17.00 waktu Arab Saudi dan diperkirakan tiba di Makkah sekitar pukul 23.00,” ujar Sayid Abdullah dari Tanah Suci, Jumat (15/5/2026).

    Dalam perjalanan tersebut, jemaah terlebih dahulu mengambil miqat di Bir Ali sebagai penanda dimulainya niat umrah. Namun, karena kondisi cuaca ekstrem di Madinah yang mencapai 43 derajat Celsius, pihak kloter mengambil kebijakan khusus bagi jemaah berisiko tinggi (risti).

    Menurut Sayid Abdullah, jemaah lansia dan jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu tidak diperkenankan turun dari bus demi menjaga keselamatan dan kesehatan mereka.

    “Cuaca di Madinah sangat terik. Karena itu, jemaah risti cukup mengambil niat dari atas bus tanpa turun ke area masjid di Bir Ali. Kami tidak memberikan kesempatan untuk turun maupun melaksanakan salat di lokasi miqat demi menghindari risiko kesehatan,” jelasnya.

    Ia menambahkan, setibanya di Makkah, jemaah tidak langsung diberangkatkan untuk melaksanakan umrah wajib. Pihak kloter akan lebih dahulu menyesuaikan dengan pengaturan pergerakan jemaah yang ditetapkan syarikah dan maktab.

    “Setelah tiba di Makkah, jemaah akan diatur terlebih dahulu sesuai regulasi yang berlaku sambil menunggu informasi dari pihak syarikah dan maktab terkait jadwal pelaksanaan umrah,” katanya.

    Selain faktor teknis pengaturan jemaah, kedatangan rombongan yang bertepatan dengan hari Jumat juga menjadi pertimbangan tersendiri. Aktivitas di Masjidil Haram pada hari Jumat biasanya lebih padat dan memiliki pengaturan khusus.

    “Karena kami tiba pada hari Jumat, kemungkinan besar jamaah Kaltara baru akan melaksanakan umrah wajib setelah salat Jumat,” pungkasnya.