Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Kampung Organik Brenjonk Mojokerto 'Kebal' Dampak Dolar dan El Nino, Perputaran Ekonomi Kuliner Rp300 Juta per Bulan 

Direktur Brenjonk, Slamet (kanan) bersama Deputi Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Umran Usman di pendopo kampung budidaya organik, Jumat (22/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Nasional

    Kampung Organik Brenjonk Mojokerto 'Kebal' Dampak Dolar dan El Nino, Perputaran Ekonomi Kuliner Rp300 Juta per Bulan 

    PusaranMedia.com

    Direktur Brenjonk, Slamet (kanan) bersama Deputi Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Umran Usman di pendopo kampung budidaya organik, Jumat (22/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

    Kampung Organik Brenjonk Mojokerto 'Kebal' Dampak Dolar dan El Nino, Perputaran Ekonomi Kuliner Rp300 Juta per Bulan 

    Direktur Brenjonk, Slamet (kanan) bersama Deputi Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Umran Usman di pendopo kampung budidaya organik, Jumat (22/5/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan 

    MOJOKERTO - Kampung organik Brenjonk di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto menjadi contoh ketahanan pangan berbasis pertanian organik yang dinilai mampu bertahan dari gejolak ekonomi hingga ancaman perubahan iklim.

    Brenjonk merupakan singkatan dari Sumber Rejo yang dimaknai sebagai simbol kemakmuran warga melalui pertanian dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

    Kampung yang berada di lereng Gunung Penanggungan itu dikunjungi rombongan Bank Indonesia (BI) Balikpapan bersama sejumlah wartawan dalam rangka Capacity Building, Jumat (22/5/2026).

    Deputi Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Umran Usman mengatakan kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari penerapan pertanian organik yang telah berjalan konsisten selama 18 tahun di Brenjonk.

    "Kami ingin belajar bagaimana budidaya organik di sini diterapkan secara konsisten dan memiliki pasar yang jelas," ucap Umran.

    Sementara Direktur Brenjonk, Slamet menjelaskan komunitas Brenjonk saat ini memiliki 109 petani dengan sekitar 900 kepala keluarga dan mengelola lahan seluas 146 hektare.

    Dari total petani tersebut, sekitar 20 persen merupakan generasi muda berusia 20 hingga 34 tahun yang aktif mengembangkan pertanian organik.

    Menurutnya, sistem pertanian organik yang diterapkan di kampung tersebut menggunakan konsep pertanian terpadu dan tertutup sehingga tidak bergantung pada input dari luar.

    "Kalau dolar naik apa berpengaruh? Enggak juga. Karena modalnya dari sampah dan limbah ternak yang diputar kembali menjadi pupuk," kata Slamet.

    Ia menjelaskan jerami padi tidak dibakar melainkan dikomposkan kembali ke tanah untuk menjaga kesuburan sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. 

    Limbah ternak sapi dan kambing juga diolah menggunakan mikroba menjadi pupuk organik.

    Brenjonk bahkan memiliki laboratorium mikroorganisme atau agens hayati yang mampu memperbanyak sembilan jenis mikroba untuk membantu menyediakan unsur hara bagi tanaman.

    "Mikroba itu bekerja 24 jam tanpa harus digaji. Mereka membantu mengikat unsur hara dan menjadi pabrik NPK alami," ujarnya.

    Menurut Slamet, sistem pertanian organik juga terbukti lebih tahan menghadapi perubahan iklim. 

    Tanah organik memiliki daya serap air lebih baik sehingga tidak mudah banjir maupun kekeringan saat El Nino dan La Nina.

    "Organik itu bukan sekadar produk, tapi proses. Ada prinsip ekonomi, ekologi, perlindungan, dan pemberdayaan," katanya.

    Produk organik Brenjonk saat ini dipasarkan ke sejumlah pasar premium seperti Super Indo, RANS Market, Papaya dan Lai Lai. Untuk Super Indo saja, distribusi dilakukan ke 45 toko di Jawa Timur.

    Slamet mengatakan produk pertanian organik mampu memberikan nilai tambah jauh lebih tinggi dibanding produk biasa. 

    Bayam organik misalnya, bisa dijual hingga Rp25 ribu per kilogram setelah dikemas, jauh di atas harga bayam biasa sekitar Rp6 ribu per kilogram.

    Selain beras putih, Brenjonk juga memproduksi beras merah, hitam, cokelat hingga pandan wangi dengan harga premium karena memiliki manfaat kesehatan lebih tinggi.

    "Yang merah dan hitam banyak dicari untuk penderita diabetes dan program diet," ujarnya.

    Produktivitas padi organik di Brenjonk mencapai 5 hingga 6 ton per hektare. Seluruh proses budidaya hingga pengemasan dijalankan sesuai standar Sistem Pengendalian Internal atau Internal Control System (ICS) untuk menjaga sertifikasi organik.

    Slamet menyebut Brenjonk juga mengembangkan wisata edukasi pertanian organik. Pengunjung tidak hanya menikmati suasana persawahan, tetapi juga belajar proses budidaya, pengemasan hingga pemasaran hasil pertanian.

    "Kita ingin masyarakat tetap menjadi petani, tetapi memiliki nilai tambah dari edukasi dan wisata," katanya.

    Dukungan BI sejak 2018 turut memperkuat pengembangan kawasan tersebut melalui program peningkatan sumber daya manusia, sekolah lapang pertanian organik, pengembangan wisata edukasi, hingga bantuan sarana dan prasarana.

    Tak hanya itu, rombongan juga diperlihatkan penggunaan drone pertanian presisi yang digunakan untuk pemetaan lahan, penyemprotan pupuk, hingga penyebaran pestisida dan mikroba pada tanaman.

    Kini, kawasan Brenjonk berkembang menjadi destinasi wisata edukasi pertanian yang ramai dikunjungi. 

    Slamet menyebut jumlah pengunjung mencapai sekitar 8.500 orang per bulan dengan perputaran ekonomi kuliner mencapai Rp300 juta setiap bulan di area seluas sekitar lima hektare.

    "Kalau kelompok tani kecil kuat, petani akan bisa bertahan dalam situasi apa pun," pungkasnya.