Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN – Masyarakat di wilayah dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, kembali menghadapi tekanan ekonomi akibat terus meroketnya harga kebutuhan pokok. Sejak awal 2026, berbagai komoditas penting mengalami kenaikan signifikan, mulai dari gula pasir, minyak goreng, Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga material bangunan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena daya beli masyarakat semakin tergerus, sementara akses distribusi barang ke wilayah perbatasan itu masih menghadapi berbagai kendala, terutama buruknya infrastruktur transportasi darat.
Camat Krayan, Ronny Firdaus, mengungkapkan bahwa sebagian besar kebutuhan masyarakat Krayan masih bergantung pada pasokan dari Lawas, Sarawak, Malaysia. Ketergantungan tersebut membuat harga barang di wilayah perbatasan sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang dan biaya distribusi.
"Hampir seluruh kebutuhan pokok masyarakat masih didatangkan dari Malaysia. Ketika nilai tukar rupiah melemah dan biaya belanja meningkat, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat," ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Menurut Ronny, kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh komoditas kebutuhan sehari-hari. Harga minyak goreng yang sebelumnya berkisar Rp23 ribu per liter kini naik menjadi Rp26 ribu hingga Rp27 ribu per liter. Sementara gula pasir yang sebelumnya dijual sekitar Rp18 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp25 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram.
Ia menjelaskan, para pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual karena biaya pembelian barang dari Malaysia terus meningkat. Akibatnya, masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari kondisi tersebut.
Situasi yang lebih berat bahkan dialami warga di Kecamatan Krayan Selatan. Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, menyebut harga sejumlah kebutuhan pokok di wilayahnya telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Harga gula pasir, misalnya, kini berada pada kisaran Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram. Minyak goreng yang sebelumnya dijual sekitar Rp25 ribu per liter kini menembus Rp29 ribu hingga Rp35 ribu per liter.
Tak hanya itu, harga BBM jenis Pertalite juga mengalami lonjakan tajam. Jika sebelumnya masyarakat masih bisa memperoleh BBM dengan harga sekitar Rp12 ribu per liter, kini harganya mencapai Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per liter.
Kenaikan paling mencolok terjadi pada material bangunan. Harga semen yang sebelumnya berada di kisaran Rp280 ribu per sak kini melonjak menjadi Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per sak.
Menurut Oktavianus, tingginya harga barang di Krayan Selatan tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor pasokan dari luar negeri. Buruknya kondisi infrastruktur jalan dan jembatan juga menjadi penyebab utama membengkaknya biaya distribusi barang ke wilayah tersebut.
Ia mencontohkan perjalanan distribusi logistik dari Long Bawan menuju Long Layu yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu satu hingga dua jam, kini berubah menjadi perjalanan panjang yang memakan waktu hingga tujuh hari akibat kerusakan jalan dan putusnya sejumlah jembatan.
"Biaya angkut semakin tinggi karena kendaraan harus menghadapi kondisi jalan yang rusak berat. Akibatnya harga barang yang sampai ke masyarakat menjadi jauh lebih mahal," katanya.
Fenomena ini kembali memperlihatkan persoalan klasik yang selama bertahun-tahun dihadapi masyarakat Krayan. Di satu sisi, wilayah perbatasan tersebut menjadi garda terdepan negara. Namun di sisi lain, masyarakat masih harus berjuang menghadapi mahalnya harga kebutuhan pokok akibat keterbatasan akses transportasi dan tingginya ketergantungan pasokan dari negara tetangga.
Tanpa langkah konkret untuk memperbaiki konektivitas dan memperkuat rantai pasok dari dalam negeri, lonjakan harga diperkirakan akan terus membebani masyarakat. Kondisi ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga cerminan belum optimalnya kehadiran negara dalam menjamin akses kebutuhan dasar bagi warga yang tinggal di kawasan perbatasan.

