Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA - Antrean kendaraan di sejumlah SPBU penyedia Pertalite di Samarinda semakin panjang dalam dua hari terakhir.
Fenomena ini dipicu perpindahan sebagian pengguna Pertamax ke BBM bersubsidi setelah harga Pertamax melonjak menjadi Rp16.650 per liter sejak 10 Juni 2026.
Pantauan pada Kamis (11/6/2026), antrean kendaraan terlihat mengular di SPBU Jalan Juanda, Kecamatan Samarinda Ulu.
Deretan kendaraan bahkan sempat mendekati badan jalan saat pengendara menunggu giliran mengisi bahan bakar.
Kondisi serupa juga terlihat di SPBU Jalan Kesuma Bangsa, Kecamatan Samarinda Kota.
Meski antrean diarahkan berputar di dalam area SPBU sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas, jumlah kendaraan yang menunggu tetap terlihat jauh lebih banyak dibanding hari-hari biasa.
Rido (21), mahasiswa yang juga bekerja sebagai pengemudi ojek daring mengaku kini rutin mengantre Pertalite demi menekan biaya operasional kendaraan.
"Ngantre sekitar 30 menit. Padahal waktu segitu sebenarnya bisa buat dua orderan," ujarnya.
Menurut Rido, selisih harga yang semakin lebar membuat penggunaan Pertamax tidak lagi sebanding dengan pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan sehari-hari.
Hal serupa dirasakan Ica (24), pegawai swasta yang mengaku sebelumnya memilih Pertamax untuk menghindari antrean.
Namun kenaikan harga yang cukup signifikan membuatnya beralih ke Pertalite meski harus menghabiskan waktu lebih lama di SPBU.
"Kayaknya banyak pengguna Pertamax yang melakukan hal sama, makanya yang beli Pertalite jadi makin banyak," ujar Ica saat mengantre.
Ia mengaku sempat mengantre hampir satu jam untuk mendapatkan Pertalite di SPBU Jalan Kesuma Bangsa. Kenaikan harga Pertamax menurutnya semakin menambah tekanan ekonomi.
Selain persoalan biaya, ia juga mulai mengkhawatirkan ketersediaan Pertalite jika tren perpindahan pengguna terus meningkat.
"Nggak semua SPBU di Samarinda menyediakan Pertalite. Jadi sebenarnya khawatir juga soal stoknya," katanya.
Di tengah meningkatnya antrean Pertalite di sejumlah SPBU, ia berharap distribusi BBM tetap berjalan lancar sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Ia juga berharap kondisi harga bahan bakar dapat kembali stabil agar tidak semakin membebani pengeluaran rumah tangga maupun biaya operasional pekerjaan sehari-hari.
"Harapannya harga Pertamax bisa turun lagi di harga Rp12 ribu supaya bisa lebih terjangkau bagi pekerja dengan gaji di bawah UMR," harapnya.

