Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Janji dari Balik Jendela Bohe Silian, Menakar Keadilan Jaringan di Beranda Depan Nusantara 

Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar mencium tangan wanita lansia di balik jendela Kampung Bohe Silian, Pulau Maratua. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Opini

    Janji dari Balik Jendela Bohe Silian, Menakar Keadilan Jaringan di Beranda Depan Nusantara 

    PusaranMedia.com

    Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar mencium tangan wanita lansia di balik jendela Kampung Bohe Silian, Pulau Maratua. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

    Janji dari Balik Jendela Bohe Silian, Menakar Keadilan Jaringan di Beranda Depan Nusantara 

    Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadhilah Mathar mencium tangan wanita lansia di balik jendela Kampung Bohe Silian, Pulau Maratua. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

    Oleh: Achmad Fadillah

    SEBUAH foto terkadang mampu bicara lebih lantang ketimbang deretan angka statistik pencapaian infrastruktur.

    Di sebuah rumah kayu bernomor 14, RT 02 Kampung Bohe Silian, Pulau Maratua, sebuah potret terekam dengan begitu hangat. 

    Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Fadhilah Mathar membungkuk takzim, mencium telapak tangan seorang wanita Lanjut Usia (Lansia) yang duduk di balik jendela. 

    Wanita senja itu minim bicara, tapi lewat tatapan matanya yang teduh, tersimpan sejuta cerita tentang sebuah pulau di beranda terdepan Indonesia yang sedang berjuang memutus isolasi digital. 

    Bagi Fadhilah Mathar yang akrab disapa Indah, ciuman tangan itu bukan sekadar gestur kesantunan, melainkan sebuah simbol pamit sekaligus penerimaan beban amanah yang nyata.

    Sebuah janji dari negara untuk menghadirkan keadilan konektivitas di wilayah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T). 

    Perjalanan emosional sepanjang 10-12 Juni 2026 di Pulau Maratua ini membawa misi besar, yaitu "Melihat Langsung Dampak Konektivitas Digital di Pulau Terdepan Indonesia". 

    Di bawah langit Maratua, Indah tidak memilih kenyamanan mobil rombongan.

    Dengan antusiasme tinggi, ia memilih menaiki roda dua, menerabas guyuran hujan dan terik matahari demi melihat langsung titik lokasi, termasuk menara BTS Universal Service Obligation (USO) yang berdiri kokoh sebagai penopang komunikasi warga.

    Kecamatan Maratua sendiri memayungi empat kampung strategis, yaitu Teluk Harapan, Payung-Payung, Teluk Alulu dan Bohe Silian.

    Kunjungan ini terfokus di Payung-Payung yang kini telah ditetapkan sebagai kawasan desa wisata bahari, serta Kampung Bohe Silian tempat berdirinya menara BTS USO penopang jaringan kepulauan.

    Tidak jauh dari rumah kayu sang wanita lansia, suara realitas di lapangan menggema dari teras rumah rumah lansia itu. Nawir, seorang guru lokal yang telah mengabdi sejak tahun 1997, mengungkapkan keluh kesah yang mewakili jeritan hati warga pesisir.

    "Orang kebanyakan orang pakai, ya sudah lelet sudah. Gak ada harapan sudah," ujar Nawir terus terang. "Memang membantu sekali. Cuma membantunya ya salah-salah. Kapasitasnya ndak mampu."

    Sebagai pendidik, Nawir merasakan betul bagaimana Bakti internet ini sangat dinantikan. Namun, di era digital di mana semua pelaporan kedinasan dan ujian sekolah harus dilakukan secara online ke pusat, kapasitas yang ada saat ini terasa seperti sumbatan.

    Nawir mengenang kembali sejarah panjang jaringan di kampungnya. Pembangunan pertama masuk sekitar tahun 2013-2014 di masa kepemimpinan Pak Juhri, dengan kapasitas jangkauan transmisi yang hanya 500 meter. Pembaruan kemudian dilakukan pada 2018 dengan hadirnya jaringan 4G. 
    Namun, jangkauan tersebut belum mampu menyentuh secara merata hingga ke ujung kampung. "Kalau ndak ditambah 'kan, nah bagaimana mau begini terus? Jangkauannya itu nah, kurang. Kalau sudah di ujung kampung situ, ndak bisa lagi," keluh Nawir.

    Masyarakat Maratua tidak menggunakan internet untuk sekadar menonton hiburan, melainkan untuk urusan urgen, seperti komunikasi dan keselamatan nelayan di laut. 

    Di sinilah letak tantangan besarnya. Berbeda dengan perkotaan yang menggunakan serat optik atau microwave berkapasitas ratusan Mbps dengan biaya murah, wilayah kepulauan 3T harus bergantung pada teknologi Very Small Aperture Terminal (VSAT). 

    Jaringan VSAT ini memiliki keterbatasan kapasitas dengan maksimal berada di angka 12 Mbps, sehingga rentan mengalami kelambatan ekstrem atau buffering jika ratusan warga mengakses aplikasi berat seperti TikTok atau YouTube secara bersamaan.

    Evaluasi mendalam ditemukan saat rombongan BAKTI menyambangi SDN 001 Kampung Payung-Payung. Kepala Sekolah, Bahridin mengisahkan masa lalu yang getir, di mana para guru harus berjalan kaki hingga ke ujung jembatan kampung sebelah hanya untuk mencari setitik sinyal demi mengirim laporan dinas.

    Kini, internet gratis dari BAKTI berbasis satelit SATRIA-1 telah hadir di fasilitas publik tersebut, mencatatkan aktivitas padat dengan total 502 pengguna, kecepatan unduh hingga 40 Mbps dan unggah mencapai 8 Mbps.

    Namun, muncul masalah baru, yakni jaringan Wi-Fi sekolah terbuka luas tanpa kata sandi untuk umum, sehingga wilayah sekolah kerap menjadi titik kumpul masyarakat baik siang maupun malam hari. 

    Ketika pelaksanaan ujian online berlangsung, kapasitas internet tersedot massal oleh publik, memaksa 94 siswa dan 13 tenaga pendidik di sana beralih menggunakan internet cadangan.

    Ada sebuah temuan menarik saat tim BAKTI mengecek sistem. Jalur internet khusus yang dialokasikan untuk internal sekolah sebenarnya baru mendeteksi tiga pengguna. 

    Rupanya, terjadi sumbatan informasi teknis. Pihak sekolah lebih banyak menggunakan Wi-Fi umum bernama BAKTI AKSI karena tidak mengetahui adanya pembagian akun login khusus guna memisahkan jaringan sekolah dengan akses publik akibat kurangnya sosialisasi awal pasca-pemasangan perangkat. 

    Pihak sekolah pun memberi masukan agar kapasitas bandwidth ditingkatkan hingga 100 Mbps saat musim ujian nasional.
    Kondisi serupa terjadi di Kantor 

    Kampung Payung-Payung yang melayani 339 pengguna dengan kecepatan rata-rata 10-20 Mbps. Sekretaris Kampung, Rino menyebut internet ini sebagai penyelamat konektivitas bagi 782 jiwa penduduk ketika seluruh sistem pelaporan desa diwajibkan berbasis online. Internet gratis ini juga menjadi penyelamat saat jaringan satu-satunya operator seluler swasta down akibat membeludaknya kunjungan wisatawan.

    Namun, saat warga berkumpul di area kantor hingga larut malam untuk melakukan streaming nonton bareng pertandingan sepak bola, pelayanan publik kantor kampung langsung terhambat akibat buffering parah. Perangkat desa bahkan terpaksa mengungsi ke kafe atau resort terdekat demi mengejar tenggat laporan keuangan mereka. 

    Penumpukan massa ini juga memicu masalah sosial baru berupa penimbunan sampah serta kekhawatiran batasan jam internet anak sekolah. Selain itu, sebaran akses saat ini baru optimal di RT 2, sementara wilayah RT 1 masih membutuhkan perluasan jaringan.

    Mendengar seluruh kritikan dan masukan tersebut, Indah memilih untuk tetap tenang dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi internal yang krusial. 

    Baginya, potret Maratua adalah miniatur dari tantangan nyata pembangunan 3T di Indonesia. Kondisi geografis, pasokan listrik lokal yang tidak stabil atau sering naik-turun yang rentan merusak perangkat modem, hingga keterbatasan satelit menjadi tantangan utama di lapangan.

    Secara bisnis komersial, operator swasta tidak akan sudi melirik wilayah ini secara mandiri. Biaya operasional BTS berbasis satelit di daerah terpencil sangat tinggi, mencapai kisaran Rp30 juta per site tiap bulannya, sementara jumlah penggunanya sedikit hanya berkisar 200-300 orang dengan daya beli paket data yang rendah. 

    Di sinilah negara hadir melalui BAKTI, mengoperasikan menara BTS USO dan mensubsidi penuh dari anggaran negara sejak periode 2017-2018 dengan tingkat kestabilan daya atau SLA power yang sangat tinggi mencapai 99,94 persen hingga 99,97 persen.

    Sejalan dengan visi Astacita Presiden Prabowo, BAKTI kini membawa misi besar untuk mengubah paradigma wilayah perbatasan. Kabupaten Berau dan Pulau Maratua, yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Filipina, kini tidak lagi dipandang sebagai "halaman belakang" pertahanan fisik, melainkan ditransformasikan menjadi "beranda depan ekonomi" bangsa.

    Upaya penyediaan internet ini membuahkan hasil fantastis pada sektor pariwisata Berau. Didukung oleh peluncuran satelit multifungsi terbesar milik pemerintah, SATRIA-1, yang dioperasikan oleh SDM lokal di 11 gateway, angka kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara melesat tajam dari hanya 15.883 orang pada tahun 2023 menjadi sekitar 200-an ribu wisatawan pada periode 2025-2026. Lonjakan ini sekaligus berhasil menarik investasi berupa masuknya 6 resort asing ke wilayah tersebut.

    Secara makro di Kalimantan Timur (Kaltim), BAKTI telah mencatat realisasi pembangunan yang masif dengan mengoperasikan 604 titik WiFi gratis di fasilitas publik dari 31.863 secara nasional serta membangun 48 menara BTS 4G dari 6.747 secara nasional yang sinyalnya diisi oleh operator seluler seperti Telkomsel di 43 desa dan XL Axiata di lima desa.

    Langkah progresif kini tengah diayunkan. Fokus BAKTI kini bergeser dari sekadar menyediakan akses awal menjadi peningkatan kapasitas sinyal secara progresif, dari yang semula mayoritas kapasitas transmisi berada di angka 4 Mbps di 21 site dan 8 Mbps di 19 site, kini ditingkatkan secara bertahap menjadi minimal 60 hingga 80 Mbps demi menghapus sinyal lemah di berbagai pelosok negeri, termasuk mengatasi blank spot total yang masih tersisa di 16 desa di Kaltim.

    Mengenai kendala kestabilan listrik di fasilitas publik seperti sekolah, BAKTI menegaskan regulasi bahwa pengadaan fasilitas daya tambahan sepenuhnya menjadi komitmen penerima manfaat, berbeda dengan proyek menara BTS seluler yang seluruh pasokan dayanya ditanggung penuh anggaran negara. 

    Namun sebagai solusi terdekat, koordinasi intensif dan sosialisasi ulang mengenai tata cara penggunaan jalur khusus login serta manajemen keamanan password akan segera digulirkan agar pemanfaatan internet berkeadilan ini berfungsi secara optimal.

    Kembali pada potret di rumah kayu Kampung Bohe Silian. Ciuman tangan Indah kepada sang wanita lansia adalah janji nyata bahwa kemajuan teknologi tidak akan meninggalkan kearifan lokal. 

    Digitalisasi ini adalah mesin penggerak ekonomi krusial untuk membawa Indonesia menjadi negara berpenghasilan tinggi pada 2045, dan transformasi besar itu akan selalu dimulai dari tempat di mana matahari terbit pertama kali di tapal batas negara.