Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai dilirik operator telekomunikasi swasta.
Salah satunya XLSMART yang tengah mempersiapkan penguatan jaringan ke sejumlah daerah terpencil, termasuk Pulau Maratua di Kabupaten Berau.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan pasca merger antara XL Axiata, Smartfren, dan AXIS yang kini berada di bawah entitas baru XLSMART.
Regional Network Optimization Kalimantan XLSMART, Ananta Aditya mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan proses integrasi jaringan sekaligus memperluas cakupan layanan di wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses telekomunikasi.
"Untuk ke depan memang kita persiapkan beberapa integrasi sinyal, khususnya untuk Smartfren. Saat ini masih dalam proses dan akan terus kami lakukan pengembangan," kata Ananta, Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, pembangunan jaringan di kawasan 3T memiliki tantangan yang berbeda dibanding wilayah perkotaan.
Kendala utama terletak pada akses geografis dan jarak antarlokasi yang cukup jauh sehingga membutuhkan infrastruktur tambahan untuk menghubungkan satu BTS dengan BTS lainnya.
"Kalau di daerah-daerah 3T, salah satu tantangan terbesar adalah akses. Untuk menghubungkan satu BTS dengan BTS lainnya terkendala jarak. Karena itu, untuk mencapai area 3T sering kali perlu membangun BTS tambahan di tengah-tengah jalur tersebut," ujarnya.
Meski demikian, XLSMART mengaku telah menyiapkan sejumlah skema mitigasi guna memperluas layanan ke daerah terpencil. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi satelit sebagai jalur transmisi jaringan.
"Tapi sudah ada mitigasi. Jadi entah nanti menggunakan satelit untuk jalur transmisi, itu sudah masuk dalam perencanaan kami," tambahnya.
Ananta menjelaskan pengembangan jaringan di wilayah 3T selama ini juga didukung program Universal Service Obligation (USO) yang dijalankan pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
"Kalau di pemerintah ada yang namanya proyek USO dari BAKTI. Selain itu juga ada pengembangan yang dilakukan operator secara mandiri untuk menyasar area-area 3T," jelasnya.
Data BAKTI Komdigi mencatat masih terdapat 16 desa di Kaltim yang berstatus blank spot atau belum terjangkau sinyal telekomunikasi sama sekali.
Sebanyak tujuh desa berada di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yakni Kupang Baru, Muara Tiq, Muara Salung, Muara Kebaq, Muara Belinau, Muara Tubo, dan Muara Enggelam.
Kemudian lima desa berada di Kabupaten Berau, yakni Panaan, Mapulu, Long Sului, Tabalar Ulu, dan Balikukup.
Sementara itu, satu desa blank spot berada di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), yaitu Gerunggung. Adapun tiga desa lainnya berada di Kabupaten Mahakam Ulu, yakni Long Merah, Long Gelawang, dan Lirung Ubing.
Di Pulau Maratua sendiri, akses internet saat ini masih banyak ditopang oleh BTS USO milik BAKTI Komdigi serta layanan internet berbasis satelit.
Kehadiran operator komersial seperti XLSMART diharapkan dapat memperkuat konektivitas digital sekaligus memperluas pilihan layanan telekomunikasi bagi masyarakat di wilayah perbatasan dan kepulauan terluar Kaltim.

