Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Dampak Kenaikan Harga Pertamax di Balikpapan, Warga Mulai Kurangi Mobilitas dan Beralih Pakai Pertalite 

Pengendara roda dua mengisi BBM di SPBU kawasan Karang Jati Balikpapan, Minggu (14/6/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Video

    Dampak Kenaikan Harga Pertamax di Balikpapan, Warga Mulai Kurangi Mobilitas dan Beralih Pakai Pertalite 

    PusaranMedia.com

    Pengendara roda dua mengisi BBM di SPBU kawasan Karang Jati Balikpapan, Minggu (14/6/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

    Dampak Kenaikan Harga Pertamax di Balikpapan, Warga Mulai Kurangi Mobilitas dan Beralih Pakai Pertalite 

    Pengendara roda dua mengisi BBM di SPBU kawasan Karang Jati Balikpapan, Minggu (14/6/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

    BALIKPAPAN - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax mulai dirasakan masyarakat Kota Balikpapan. 

    Sejak penyesuaian harga per 10 Juni 2026, pengguna Pertamax mengaku terpaksa mengurangi mobilitas hingga menyesuaikan pengeluaran harian akibat lonjakan harga yang cukup signifikan.

    Di Kalimantan Timur (Kaltim), harga Pertamax yang sebelumnya Rp12.600 per liter kini menjadi Rp16.650 per liter atau naik Rp4.050 per liter.

    Pantauan di SPBU kawasan Karang Jati, Minggu (14/6/2026), sejumlah pengguna mengeluhkan kenaikan tersebut karena dinilai semakin membebani kondisi ekonomi masyarakat yang sedang sulit.

    Salah seorang pengendara roda dua, Yuda mengaku mulai membatasi aktivitas di luar rumah sejak harga Pertamax naik.

    "Ekonomi lagi sulit. Kalau bisa pakai sepeda saja. Kalau tidak ada keperluan penting, enggak usah jalan dulu. Rp50 ribu sekarang cuma dapat sekitar 3 liter," ucap Yuda.

    Pemilik usaha warung soto itu mengatakan dirinya kini lebih jarang menggunakan kendaraan dibanding sebelumnya untuk menghemat pengeluaran BBM.

    "Jarang jalan sekarang semenjak ada kenaikan ini. Lebih banyak di rumah saja," katanya.

    Keluhan serupa disampaikan ibu rumah tangga, Yani. Menurutnya, kenaikan harga BBM semakin memberatkan masyarakat karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok.

    "Ya keberatan. Kita rakyat kecil yang setiap hari beraktivitas. Semua bahan-bahan naik, sembako naik, sekarang BBM juga naik," ujarnya.

    Ia berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan kenaikan harga tersebut.

    "Kalau bisa diturunkan lagi," katanya.

    Sementara pengguna lainnya, Nina menilai kenaikan Pertamax berdampak pada meningkatnya antrean kendaraan di SPBU yang menjual Pertalite.

    Menurut dia, banyak pengendara beralih menggunakan BBM subsidi karena selisih harga yang cukup jauh.

    "Rata-rata orang akhirnya pilih Pertalite. Akibatnya antrean jadi panjang sekali," ujarnya.

    Nina mengaku melihat antrean kendaraan di sejumlah SPBU, di antaranya kawasan Karang Anyar, Kilometer (KM) 4, hingga SPBU Stalkuda.

    Selain menyebabkan antrean, kondisi tersebut juga berdampak pada kemacetan dan memaksa sebagian pengguna tetap membeli Pertamax ketika Pertalite sulit diperoleh.

    "Kalau kejar waktu, mau tidak mau tetap isi Pertamax. Akhirnya pengeluaran bertambah lagi," katanya.

    Keluhan juga datang dari pengguna kendaraan roda empat, Amelia. Ia menilai kenaikan harga Pertamax sangat membebani masyarakat, terutama pekerja yang harus menempuh jarak jauh setiap hari.

    "Dengan kondisi ekonomi sekarang, kenaikannya sangat signifikan dan sangat membebani. Pengeluaran untuk BBM jadi jauh lebih besar," ujarnya.

    Amelia mengaku kini tidak lagi mengisi tangki penuh seperti biasanya karena biaya yang harus dikeluarkan semakin besar.

    "Dulu isi Rp250 ribu bisa penuh, sekarang sudah tidak dapat full lagi. Itu sangat terasa dampaknya bagi keuangan kami," katanya.

    Selain memicu keluhan pengguna Pertamax, kenaikan harga BBM juga berdampak pada meningkatnya kepadatan antrean kendaraan di sejumlah SPBU yang menjual Pertalite dengan harga Rp10 ribu per liter.

    Kenaikan harga Pertamax tersebut bahkan memicu rencana aksi unjuk rasa yang akan digelar di depan Gedung DPRD Balikpapan pada Senin besok. Massa berencana menyampaikan aspirasi terkait dampak kenaikan harga BBM terhadap kondisi ekonomi masyarakat.