Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA – Musim kemarau diperkirakan mulai memasuki wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) pada akhir Juni 2026, tapi warga Samarinda masih diminta mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam beberapa pekan ke depan.
Prakirawan Cuaca BMKG Samarinda, Wiwi Indasari mengatakan berdasarkan prakiraan cuaca dasarian, curah hujan di Samarinda hingga 20 Juni 2026 masih berada pada kategori menengah dengan intensitas berkisar 50 hingga 150 milimeter.
Selain itu, sifat hujan diperkirakan berada di atas normal atau lebih basah dibandingkan kondisi rata-rata pada periode yang sama.
"Untuk satu dasarian ke depan khususnya di Samarinda, curah hujan masih berada pada kategori menengah. Sementara sifat hujannya di atas normal atau bisa dikatakan lebih basah dari biasanya," ujar Wiwi saat ditemui di ruangannya, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh masa transisi atau peralihan musim yang saat ini sedang berlangsung. Pada periode ini, pola sirkulasi angin mengalami perubahan dari Monsun Asia menuju Monsun Australia yang menjadi penanda masuknya musim kemarau.
Meski demikian, proses pergantian musim tidak selalu berlangsung mulus. Justru pada masa peralihan, potensi cuaca ekstrem seperti hujan deras, angin kencang, hingga petir masih dapat terjadi. "Di musim peralihan, hujan masih sangat mungkin terjadi," ucapnya.
BMKG memperkirakan periode peralihan musim di Samarinda berlangsung pada akhir Juni hingga pertengahan Juli 2026. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan cuaca buruk meskipun musim kemarau mulai mendekat.
Menurut Wiwi, wilayah Kaltim, termasuk Samarinda, memiliki karakteristik cuaca yang cukup dinamis karena berada di sekitar garis khatulistiwa. Kondisi tersebut membuat perubahan musim dipengaruhi berbagai faktor, baik lokal maupun global.
"Hal itu yang membuat awal musim diperkirakan datang lebih cepat atau lambat," pungkasnya.

