Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Dinkes Samarinda Perkuat Deteksi Dini dan Dorong Regulasi Perda, Minta Warga Tak Takut Skrining TB dan HIV

Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Health

    Dinkes Samarinda Perkuat Deteksi Dini dan Dorong Regulasi Perda, Minta Warga Tak Takut Skrining TB dan HIV

    PusaranMedia.com

    Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

    Dinkes Samarinda Perkuat Deteksi Dini dan Dorong Regulasi Perda, Minta Warga Tak Takut Skrining TB dan HIV

    Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

    SAMARINDA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengajak masyarakat untuk tidak lagi takut menjalani pemeriksaan kesehatan atau skrining Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV). 

    Deteksi dini dinilai menjadi kunci utama untuk mempercepat pengobatan sekaligus memutus rantai penularan di tengah masyarakat.

    Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih, mengatakan masih ada warga yang enggan memeriksakan diri karena khawatir terhadap hasil diagnosis. Padahal, semakin cepat penyakit ditemukan, semakin besar peluang pasien untuk sembuh dan mencegah penularan ke orang lain.

    “Semakin cepat kita menemukan penderita melalui skrining, maka semakin cepat pula pengobatan dapat dilakukan,” kata Ismid. 

    Ia menegaskan, meningkatnya jumlah temuan kasus TB maupun HIV di Samarinda tidak selalu berarti kondisi kesehatan masyarakat memburuk. Sebaliknya, hal itu menunjukkan program skrining semakin masif dan mampu menjangkau lebih banyak warga.

    Dinkes mencatat, kelompok usia produktif yakni 20 hingga 40 tahun masih mendominasi temuan kasus TB dan HIV. Kondisi ini menjadi perhatian karena kelompok tersebut memiliki mobilitas tinggi dan interaksi sosial yang luas.

    Untuk kasus HIV, hingga pertengahan 2026 tercatat sekitar 180 kasus baru di Samarinda, dengan sekitar 140 orang telah menjalani pengobatan. 

    Sementara untuk TB, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, hingga demam yang tak kunjung sembuh.

    Ismed menegaskan TB bukan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Dengan kepatuhan minum obat secara teratur, peluang kesembuhan pasien sangat tinggi.

    “Karena itu, penemuan penderita harus dilakukan secepat mungkin,” tegasnya.

    Selain skrining, masyarakat juga diminta menjaga pola hidup sehat dan meningkatkan daya tahan tubuh untuk mencegah penularan, terutama di lingkungan keluarga.

    Di sisi lain, Dinkes Samarinda juga menyatakan dukungan terhadap inisiatif DPRD Kota Samarinda yang tengah mengusulkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Penanggulangan TB dan HIV. Regulasi ini dinilai penting sebagai penguatan hukum dalam penanganan penyakit menular.

    Ismed menegaskan, TB dan HIV tidak bisa hanya ditangani sektor kesehatan saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

    Ia berharap keberadaan perda nantinya dapat memperkuat program pencegahan, penanganan, hingga pengawasan TB dan HIV agar lebih optimal dan berkelanjutan di Kota Samarinda.

    “Ini seperti penanganan COVID-19, perlu kerja bersama semua pihak,” pungkasnya.