Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Subsidi Pemerintah Jadi Ladang Bisnis, Pertalite di Paser Tembus Rp16 Ribu Per Liter 

Harga eceran BBM jenis pertalite di Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser tembus Rp.16.000. (Foto : Luthfi/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Timur

    Subsidi Pemerintah Jadi Ladang Bisnis, Pertalite di Paser Tembus Rp16 Ribu Per Liter 

    PusaranMedia.com

    Harga eceran BBM jenis pertalite di Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser tembus Rp.16.000. (Foto : Luthfi/Pusaranmedia.com)

    Subsidi Pemerintah Jadi Ladang Bisnis, Pertalite di Paser Tembus Rp16 Ribu Per Liter 

    Harga eceran BBM jenis pertalite di Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser tembus Rp.16.000. (Foto : Luthfi/Pusaranmedia.com)

    Reporter : Muhammad Luthfi | Editor : Buniyamin 

    TANA PASER - Harga eceran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite khusus di Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tembus hingga Rp16 ribu per liter. Sedangkan untuk dan pertamax dibanderol Rp19 ribu per liter. 

    Fenomena ini sangat dirasakan rakyat kecil, terutama bagi mereka yang memanfaatkan kendaraan bermotor untuk menopang kebutuhan hidupnya. Seperti salah satu pengemudi Ojek Online (Ojol), Fani yang merasa sangat diberatkan dengan harga eceran pertalite.

    “Pertalite eceran di Grogot (Tanah Grogot) ada yang jual Rp14 ribu, Rp15 ribu dan paling mahal 16 ribu. Mau beli di SPBU juga susah, antreannya panjang betul gara-gara pengentap,” kata Fani, Jumat (10/7/2026).

    Di wilayah Kabupaten Paser, terdapat enam Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), yakni di Kecamatan Long Kali, Kuaro, Batu Sopang, Pasir Belengkong, serta di Jalan Jenderal Sudirman dan Kilometer (KM) 7 di Kecamatan Tanah Grogot.

    Hanya tiga di antaranya yang menyajikan BBM jenis pertalite dengan harga normal sesuai dengan edaran PT Pertamina (Persero) per 1 Juli 2026, yakni Rp10 ribu per liter. Keduanya di KM 7 Tanah Grogot, Pasir Belengkong dan Kuaro.

    “Eceran di pusat pemerintahan Paser yang dekat SPBU saja harganya segitu, bagaimana dengan harga di pelosok-pelosok,” tuturnya.

    Perkara tersebut juga membuat antrean pertamax di sejumlah SPBU di Tanah Grogot mengular. Ini memaksa Fani membeli BBM eceran yang dijual pedagang kaki lima.

    “Ya mau tidak mau beli eceran, itu terasa betul dengan keadaan sekarang. Pengeluaran harian meningkat drastis, sedangkan pemasukan tetap,” sambungnya.

    Ia pun berharap kepada pihak berwenang untuk mencarikan solusi atas permasalahan ini. Menurutnya, jika para pengetap BBM itu diterbitkan, bisa saja harga BBM eceran tidak terlalu mahal.

    “Kalau pengetap ditertibkan, mungkin saja harga BBM eceran tidak terlalu mahal. Kalau harga eceran Rp12 ribu masih terbilang normal,” tandasnya.