Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Stigma Negatif di Masyarakat Masih Jadi Tantangan Penanganan HIV di Samarinda

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Video

    Stigma Negatif di Masyarakat Masih Jadi Tantangan Penanganan HIV di Samarinda

    PusaranMedia.com

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

    Stigma Negatif di Masyarakat Masih Jadi Tantangan Penanganan HIV di Samarinda

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

    SAMARINDA – Rasa takut mendapat cap negatif dari lingkungan masih menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya penanggulangan HIV di Kota Samarinda. 

    Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat enggan menjalani pemeriksaan, padahal deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda Ismid Kusasih mengatakan, persoalan utama dalam penanganan HIV hingga kini bukan hanya soal layanan kesehatan, melainkan stigma yang masih melekat di masyarakat.

    "Coba saja ajak orang periksa HIV, responsnya pasti berbeda dibanding saat diajak cek kolesterol atau gula darah. Karena stigma itu, orang bisa mundur tiga langkah," ungkap Ismid.

    Menurutnya, semakin cepat seseorang menjalani skrining dan mendapatkan pengobatan, semakin besar peluang untuk menjaga kualitas hidupnya. Karena itu, masyarakat diminta tidak takut melakukan pemeriksaan apabila memiliki faktor risiko.

    Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan Kota Samarinda telah melakukan skrining HIV terhadap sekitar 19 ribu orang, atau sekitar 45 persen dari target pemeriksaan tahun ini. Dari jumlah tersebut, ditemukan sekitar 180 kasus HIV, dengan sekitar 140 orang telah menjalani pengobatan. 

    "Semakin kita melakukan skrining, semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula kita obati," tegasnya.

    Ismid menjelaskan, HIV berbeda dengan AIDS. HIV merupakan virus yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan darah, sedangkan AIDS merupakan kondisi ketika infeksi HIV telah memasuki tahap lanjut sehingga daya tahan tubuh menurun drastis.

    "Kalau ditemukan lebih awal, kita bisa segera memberikan pengobatan. Jangan menunggu sampai berkembang menjadi AIDS," tuturnya

    Ia menegaskan bahwa pemerintah telah menyediakan pengobatan HIV secara gratis melalui fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk. Kerahasiaan identitas pasien juga dijamin sehingga masyarakat tidak perlu khawatir untuk memeriksakan diri.

    Ismid mengingatkan masyarakat agar tidak menjauhi orang dengan HIV, melainkan meningkatkan kepedulian terhadap upaya pencegahan dan deteksi dini.

    "Obat HIV gratis, identitas pasien juga kami lindungi. Jadi jangan takut untuk datang memeriksakan diri," pungkasnya.