Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA – Rumah Sakit Primecare Samarinda resmi melakukan grand opening setelah mengantongi izin operasional pada 13 Februari 2026.
Rumah sakit swasta yang berlokasi di Jalan Muso Salim, Samarinda ini hadir dengan sejumlah fasilitas medis berbasis teknologi, serta kapasitas 96 tempat tidur rawat inap.
Direktur Rumah Sakit Primecare Samarinda, Boy E.R Wajong mengatakan rumah sakit tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar hektare atau 8.000 meter persegi.
Sementara luas bangunan mencapai sekitar 11.000 meter persegi yang terdiri dari dua lantai pada bagian depan dan empat lantai di bagian belakang.
Primecare Samarinda memiliki 16 ruang poliklinik dan 96 tempat tidur rawat inap yang terbagi dalam beberapa kelas, yakni 23 tempat tidur standar, 22 deluxe, 25 VIP, satu suite room dan satu president suite.
“Rumah Sakit Primecare Samarinda mendapat izin operasional pada tanggal 13 Februari 2026. Sejak itu kami mulai menyiapkan soft opening dan hari ini kami melakukan grand opening,” ungkap Boy, Sabtu (8/8/2026).
Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), saat ini terdapat sekitar 130 karyawan yang bekerja di Primecare Samarinda. Sebanyak 95 persen di antaranya merupakan warga Samarinda, sedangkan lima persen lainnya merupakan tenaga khusus yang didatangkan dari luar daerah, seperti Banjarmasin, Jakarta dan Manado.
Rumah sakit ini juga didukung sekitar 50 dokter spesialis dan dokter umum, termasuk 11 dokter tetap yang menjadi bagian dari manajemen dan pelayanan Primecare Samarinda.
Boy mengatakan salah satu layanan yang menjadi keunggulan rumah sakit tersebut adalah tindakan medis minimal invasif dengan dukungan teknologi. Di antaranya penggunaan laser holmium untuk membantu penanganan batu ginjal dan operasi prostat.
Selain itu, Primecare Samarinda dilengkapi sejumlah peralatan medis seperti C-arm dan CT scan dengan kemampuan pencitraan yang tinggi.
Tak hanya itu, rumah sakit tersebut juga tengah menyiapkan laboratorium genomik yang ditargetkan mulai diluncurkan dalam satu hingga dua bulan ke depan. Laboratorium tersebut menggunakan teknologi sequencer untuk membaca DNA.
Boy menyebut teknologi tersebut nantinya dapat digunakan untuk membantu diagnosis penyakit keturunan maupun melihat risiko penyakit tertentu, termasuk kanker.
“Beberapa kanker juga bisa dideteksi dengan alat ini,” ujarnya.
Pengembangan layanan genomik tersebut juga akan dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Mulawarman, khususnya Fakultas Kedokteran, sebagai bagian dari pengembangan layanan dan diferensiasi Primecare Samarinda.
Di sisi lain, Primecare Samarinda mengusung konsep smart hospital. Sistem digital diterapkan mulai dari proses pendaftaran hingga integrasi hasil radiologi dan laboratorium melalui rekam medis elektronik yang disebut Healthical.
Boy menyebut sistem tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat proses diagnosis dan terapi bagi pasien.
Sebagai rumah sakit swasta non-BPJS, Primecare Samarinda juga menekankan aspek kepatuhan terhadap regulasi, pengembangan mutu layanan, pengalaman pasien, serta manajemen risiko sebagai bagian dari pengelolaan rumah sakit.
“Yang penting juga kita akan menjaga pengalaman pasien,” tegasnya.
Dalam peresmian itu juga hadir Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Ia menilai kehadiran Rumah Sakit Primecare memperkuat layanan kesehatan di Kota Samarinda.
Tak hanya itu, ia juga berharap terdapat efek domino terhadap perekonomian Samarinda. "Kami berharap rumah sakit Primecare dapat menjadi pelopor inovasi layanan preventif bagi masyarakat Samarinda," singkat Andi Harun.

