Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Festival Rindu Dumaring (FRD) 2026 kembali digelar di Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau.
Memasuki penyelenggaraan kedua, festival ini membawa pesan yang lebih besar dari sekadar hiburan, yakni merawat identitas budaya masyarakat sekaligus memperkuat hubungan manusia dengan alam.
Kick off FRD 2026 resmi dimulai pada 8 Agustus 2026. Tahun ini, festival mengusung tema “Menyulam Rindu, Menyemai Warisan” yang menggambarkan semangat masyarakat Dumaring untuk kembali menghidupkan tradisi, mengenang warisan leluhur, serta menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya.
Ketua Panitia FRD 2026, Dra. Nana Sumanah mengatakan festival tersebut lahir dari semangat Program Kolaborasi Konservasi Hutan dan Sungai Dumaring yang sejak awal tidak hanya berbicara mengenai perlindungan kawasan alam, tetapi juga keberlangsungan masyarakat yang hidup berdampingan dengan lingkungan.
Menurutnya, menjaga hutan dan sungai tidak dapat dipisahkan dari upaya mempertahankan budaya serta pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
“Budaya memberikan identitas, alam memberikan kehidupan dan usaha memberikan penghidupan, ketiganya harus berjalan bersama,” ujar Nana.
Program kolaborasi tersebut mencakup kawasan Hutan Desa Dumaring seluas sekitar 5.141 hektare, Tanah Patiraja 673 hektare, serta sempadan sungai seluas 661 hektare.
Kawasan tersebut tidak hanya dipandang sebagai wilayah konservasi, tetapi juga sebagai ruang kehidupan masyarakat.
Karena itu, FRD dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat.
Generasi tua dan muda dipertemukan melalui seni, permainan tradisional, keterampilan, kuliner hingga kegiatan yang berkaitan dengan alam. Festival juga melibatkan masyarakat lintas etnis, agama, usia dan profesi.
Berbeda dengan pelaksanaan perdana pada 2023 yang berlangsung satu hari, FRD 2026 dikemas dalam rangkaian kegiatan selama hampir satu bulan.
Setelah Kick Off pada 8 Agustus, berbagai agenda akan berlangsung sepanjang Agustus hingga awal September dan ditutup dengan acara puncak pada 5 September 2026.
Sejumlah kegiatan telah disiapkan, mulai dari kirab budaya, pertunjukan seni, permainan dan keterampilan tradisional, pembelajaran bersama para tetua masyarakat asli Dumaring hingga pelatihan kecakapan yang menghadirkan praktisi profesional.
Festival juga membuka ruang bagi karya fotografi dan videografi yang mengangkat alam, budaya, kehidupan serta potensi wisata Dumaring.
Tak hanya menjadi panggung budaya, FRD juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan kuliner khas dan berbagai produk lokal.
Kehadiran pasar rakyat dan produk unggulan warga diharapkan dapat mempertemukan pelestarian budaya dengan peluang ekonomi masyarakat.
“Kami berharap FRD dapat menjadi wadah promosi potensi masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga Dumaring,” ujar Nana.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budi Santosa menilai penyelenggaraan FRD memiliki arti penting dalam memperkuat eksistensi budaya lokal di tengah perkembangan pariwisata daerah.
Menurutnya, kekayaan budaya yang dimiliki setiap kampung merupakan bagian penting dari identitas sekaligus modal dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis masyarakat.
“Festival seperti Rindu Dumaring ini penting karena budaya tidak hanya untuk dikenang, tetapi harus terus dihidupkan dan diperkenalkan kepada generasi muda. Ini juga menjadi bagian dari upaya kita mengangkat potensi daerah agar semakin dikenal,” kata Yudha.
Ia berharap FRD tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat berkembang menjadi agenda budaya yang konsisten dan memiliki daya tarik bagi wisatawan.
Dengan begitu, festival dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis potensi lokal.
“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa terus berkelanjutan, semakin berkembang, dan menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Berau. Yang paling penting, masyarakat tetap menjadi bagian utama dalam menjaga dan mengembangkan budaya yang mereka miliki,” tambahnya.
Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di kawasan Taman Sungai Dumaring (TSD). Festival juga diharapkan tidak hanya menarik warga setempat, tetapi masyarakat dari kampung sekitar, wisatawan, pemerintah, dunia usaha dan masyarakat umum untuk ikut mengenal kekayaan budaya serta alam Dumaring.
FRD 2026 sekaligus dikaitkan dengan peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia yang jatuh setiap 9 Agustus. Momentum tersebut memperkuat pesan festival sebagai ruang untuk menghidupkan kembali identitas masyarakat asli Dumaring, yang secara historis berasal dari sub-etnis Dayak Baluy dan Dayak Asi’i dan kini dikenal sebagai Dayak Dumaring.
“Melalui festival ini, kami ingin masyarakat tidak hanya datang untuk merayakan budaya, tetapi juga semakin bangga dengan kampung halamannya. Kami ingin nilai-nilai yang diwariskan para leluhur tetap hidup, termasuk bagaimana kita menghormati dan menjaga hutan, sungai serta seluruh kekayaan alam Dumaring agar tetap lestari dan bisa dinikmati oleh generasi berikutnya,” ujar Nana.
Penyelenggara juga menargetkan Festival Rindu Dumaring dapat berkembang menjadi agenda yang semakin dikenal luas. Bahkan, FRD diharapkan dapat masuk dalam calendar of event Pemerintah Kabupaten Berau mulai 2027 dan tahun-tahun berikutnya, sehingga festival ini memiliki keberlanjutan dan menjadi salah satu ruang promosi budaya serta potensi wisata daerah. (Adv)


