Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Puluhan Layangan Hiasi Langit Tenggarong, Pelayang se-Kaltim Gelar Kopdar Pertama di Mangkurawang

Komunitas pecinta layangan gapangan dari berbagai daerah di Kalimantan Timur berkumpul dalam kegiatan kopdar layangan se-Kaltim di area persawahan Rapack Gentong, Jalan Datawarni RT 1, Mangkurawang Darat, Tenggarong, Kukar. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Lifestyle

    Puluhan Layangan Hiasi Langit Tenggarong, Pelayang se-Kaltim Gelar Kopdar Pertama di Mangkurawang

    PusaranMedia.com

    Komunitas pecinta layangan gapangan dari berbagai daerah di Kalimantan Timur berkumpul dalam kegiatan kopdar layangan se-Kaltim di area persawahan Rapack Gentong, Jalan Datawarni RT 1, Mangkurawang Darat, Tenggarong, Kukar. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)

    Puluhan Layangan Hiasi Langit Tenggarong, Pelayang se-Kaltim Gelar Kopdar Pertama di Mangkurawang

    Komunitas pecinta layangan gapangan dari berbagai daerah di Kalimantan Timur berkumpul dalam kegiatan kopdar layangan se-Kaltim di area persawahan Rapack Gentong, Jalan Datawarni RT 1, Mangkurawang Darat, Tenggarong, Kukar. (Foto: Aswin/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin

    TENGGARONG - Komunitas pecinta layangan gapangan dari berbagai daerah di Kalimantan Timur berkumpul dalam kegiatan kopi darat (kopdar) layangan se-Kaltim di area persawahan Rapack Gentong, Jalan Datawarni RT 1, Mangkurawang Darat, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Sabtu (22/8/2026).

    Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia tersebut menjadi ajang silaturahmi bagi para pelayang dari sejumlah daerah, sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas yang selama ini lebih banyak berinteraksi melalui media sosial dan grup WhatsApp.

    Ketua Panitia, Andri, mengatakan kegiatan tersebut diikuti para pelayang dari berbagai wilayah, di antaranya Bontang, Samarinda, serta tuan rumah dari Kukar. Kegiatan berlangsung hingga malam hari.

    Peserta yang datang dari daerah cukup jauh bahkan berencana menginap di lokasi untuk melanjutkan kegiatan bersama pada malam hingga pagi hari.

    “Ini agendanya sampai malam, mungkin yang jauh-jauh tembus sampai pagi nginep di sini. Insya Allah nanti malam manjer bersama. Pokoknya anginnya bagus, terus manjer,” ujarnya.

    Andri menjelaskan, kegiatan tersebut bukan perlombaan. Para peserta hanya menerbangkan layangan bersama sebagai bentuk silaturahmi dan menikmati hobi yang sama.

    “Kalau kegiatannya cuma kopdar bersama saja, manjer bareng. Silaturahmi. Manjer itu layangan dibiarkan terbang,” jelasnya.

    Kopdar tersebut juga menjadi kegiatan pertama yang mempertemukan komunitas pelayang dari berbagai daerah di Kalimantan Timur di Tenggarong. Diperkirakan sekitar sekitar 60 layangan yang diterbangkan.

    Di Kukar sendiri, para penggemar layangan tergabung dalam komunitas Kukar, yakni Manut Pusat Pelayang Kota Raja. Kopdar se-Kaltim tersebut diharapkan dapat menjadi agenda rutin setiap tahun dengan lokasi yang berpindah-pindah.

    “Insyaallah ini rutinan setahun sekali. Kalau se-Kaltim nanti mungkin gantian tempatnya bisa di Bontang, bisa di Bukuan. Kalau hari ini kan di sini, di Kota Raja,” katanya.

    Salah satu peserta dari Pelayang Kota Bontang, Edi, menyambut baik pelaksanaan kopdar tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah bagi para pencinta layangan gapangan untuk bertemu secara langsung dan mempererat persaudaraan.

    Ia mengatakan, para pelayang dari Bontang cukup antusias mengikuti kegiatan tersebut karena dapat bertemu dengan sesama penghobi dari berbagai daerah.

    “Intinya silaturahmi. Masalah cuaca itu urusan yang di atas. Kita sudah prediksi, tapi cuacanya kadang tidak menentu dengan kondisi seperti ini. Setidaknya kita sudah ngumpul sesama sehobi se-Kaltim,” katanya.

    Menurut Edi, selama ini komunikasi antarpelayang lebih banyak dilakukan melalui media sosial dan grup WhatsApp. Mereka biasanya saling berbagi informasi maupun menunjukkan layangan yang dimainkan di daerah masing-masing.

    “Nah ini ketemu langsung, jadi kita akrab. Biasanya kita kan lewat media sosial, lewat grup WhatsApp. Silaturahminya saling spill layangan masing-masing di daerahnya. Nah, ini ketemu langsung,” tuturnya.

    Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus berlanjut dan digelar secara bergiliran di berbagai daerah. Dengan demikian, komunitas pelayang se-Kaltim memiliki agenda rutin untuk berkumpul dan mempererat hubungan.

    Lebih jauh, Edi menjelaskan bahwa ketertarikannya terhadap layangan tidak hanya berkaitan dengan hobi, tetapi juga erat dengan tradisi dan budaya masyarakat.

    Ia mengatakan, bagi sebagian masyarakat Jawa, khususnya daerah asalnya di Blitar, bermain layangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang dilakukan secara turun-temurun.

    “Kalau kami dari orang Jawa, layangan ini adalah tradisi. Kalau di daerah kami, khususnya saya di Blitar, setiap rumah pasti ada. Ini hiburan masyarakat ketika kemarau tiba,” ungkapnya.

    Menurutnya, bermain layangan juga menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya. Tradisi tersebut tidak hanya dilakukan oleh orang tua, tetapi juga diwariskan kepada generasi muda.

    “Jadi menjadi bagian dari pelestarian kebudayaan kita. Layangan ini kalau dibilang tipe layangannya sendiri, sudah tua. Dari zaman kerajaan sudah ada layangan,” katanya.

    Ia menilai daya tarik layangan salah satunya terletak pada kemampuannya menjangkau berbagai kelompok usia. Mulai dari anak-anak sekolah dasar hingga orang dewasa dan mereka yang telah memiliki cucu masih dapat menikmati aktivitas tersebut.

    “Anak muda sampai anak kecil, SD, SMP, sampai yang tua-tua yang sudah punya cucu juga ada yang di sini main. Itu keindahannya di situ,” ucapnya.

    Bagi para pelayang, aktivitas menerbangkan layangan juga menjadi hiburan masyarakat, terutama setelah masa panen atau ketika memasuki musim kemarau.

    “Jadi hiburan kalau misalnya setelah panen seperti ini, aktivitasnya main layangan,” pungkas Edi.