Reporter : Nur Hidayah | Editor : Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Pelaku usaha di Kampung Buyung-Buyung, Kecamatan Tabalar, mulai diarahkan untuk tidak lagi mengandalkan pemasaran secara konvensional. Pemanfaatan platform digital dinilai menjadi salah satu kunci agar produk UMKM lokal mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Langkah tersebut diwujudkan melalui pelatihan digital marketing yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Berau (UMB).
Kegiatan ini menyasar masyarakat dan pelaku UMKM setempat, dengan fokus pada pemanfaatan platform e-commerce sebagai sarana pemasaran.
Sekretaris Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Hasnawati, mendorong agar pelaku UMKM tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami cara menjual dan memperkenalkannya melalui teknologi digital.
Menurutnya, perubahan pola belanja masyarakat membuat pelaku usaha perlu beradaptasi. Produk yang memiliki kualitas baik akan sulit berkembang apabila tidak dibarengi kemampuan memasarkan produk secara tepat, termasuk melalui kanal digital.
“UMKM harus mulai melihat digitalisasi sebagai peluang untuk memperluas pasar. Tidak hanya menjual di lingkungan sekitar, tetapi produknya bisa dikenal lebih luas melalui platform digital,” ujar Hasnawati.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak berhenti pada peningkatan kemampuan pemasaran. Mahasiswa KKN UMB bersama Diskoperindag juga menghadirkan pelayanan perizinan usaha sehingga masyarakat dapat memperoleh pendampingan untuk mengurus legalitas usaha mereka.
Kolaborasi ini dinilai penting karena digitalisasi dan legalitas merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam mendorong UMKM naik kelas. Dengan legalitas yang jelas, pelaku usaha memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengembangkan usahanya, sementara pemasaran digital membuka peluang untuk memperluas konsumen.
Hasnawati berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai pelatihan satu kali. Pelaku UMKM di Kampung Buyung-Buyung diharapkan dapat mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh, mulai dari membuat promosi produk, memanfaatkan e-commerce, hingga membangun identitas usaha di ruang digital.
“Yang paling penting setelah pelatihan adalah bagaimana ilmu yang diberikan benar-benar diterapkan. Jangan sampai hanya selesai saat kegiatan, tetapi harus menjadi kebiasaan dalam menjalankan usaha,” katanya.
Bagi Kampung Buyung-Buyung, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong ekonomi masyarakat agar semakin adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ketika produk lokal mampu dipasarkan secara digital dan pelaku usahanya telah memiliki legalitas, peluang untuk berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas pun semakin terbuka. (Adv)


