Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Kasus Gangguan Pernapasan Naik di Balikpapan, Dinkes Belum Pastikan Dipicu Asap

Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Health

    Kasus Gangguan Pernapasan Naik di Balikpapan, Dinkes Belum Pastikan Dipicu Asap

    PusaranMedia.com

    Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

    Kasus Gangguan Pernapasan Naik di Balikpapan, Dinkes Belum Pastikan Dipicu Asap

    Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

    BALIKPAPAN - Kabut asap yang mulai menyelimuti sejumlah wilayah Balikpapan menjadi perhatian di tengah meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

    Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan menunjukkan sejumlah jenis gangguan infeksi saluran pernapasan mengalami peningkatan sepanjang Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.

    Namun, Dinkes belum dapat memastikan apakah kenaikan kasus tersebut secara spesifik disebabkan oleh paparan asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) atau dipengaruhi faktor lain, termasuk musim kemarau.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati mengatakan peningkatan kasus ISPA menjadi perhatian dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kualitas udara mengalami penurunan.

    "Pada Agustus memang terdapat peningkatan kasus ISPA dibandingkan Juli 2026. Karena itu masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat kualitas udara mengalami penurunan akibat kabut asap," ucap Alwiati, Selasa (1/9/2026).

    Data Dinkes Balikpapan mencatat kasus acute nasopharyngitis atau common cold dengan kode diagnosis J00 meningkat dari 5.861 kasus pada Juli menjadi 6.280 kasus pada Agustus 2026. Jumlah tersebut mengalami kenaikan sekitar 7,2 persen.

    Kasus acute pharyngitis atau radang tenggorokan akut dengan kode J02 juga meningkat 14,7 persen, dari 1.714 kasus pada Juli menjadi 1.966 kasus.

    Peningkatan tertinggi terjadi pada kasus acute upper respiratory infection, unspecified atau infeksi saluran pernapasan atas yang tidak spesifik dengan kode J06.9.

    Jumlah kasus meningkat dari 1.135 kasus pada Juli menjadi 1.361 kasus pada Agustus atau naik sekitar 19,8 persen.

    "Peningkatan ini menjadi perhatian kita bersama. Masyarakat harus mulai melakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak semakin mudah terserang gangguan pernapasan," katanya.

    Meski peningkatan kasus terjadi di tengah kondisi kemarau dan munculnya kabut asap, Alwiati mengatakan pihaknya belum dapat memisahkan secara spesifik penyebab kenaikan kasus ISPA tersebut.

    "Kami tidak bisa memisahkan apakah ISPA akibat asap atau karena kemarau," ujarnya.

    Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk tetap melakukan langkah pencegahan terhadap risiko gangguan pernapasan.

    Dinkes Balikpapan mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara mengalami penurunan akibat kabut asap.

    Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak, memperbanyak minum air putih, serta mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.

    "Kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di luar ruangan, mengurangi aktivitas di luar apabila tidak mendesak, memperbanyak minum air putih dan mengonsumsi makanan bergizi," katanya.

    Selain itu, warga diminta menjaga kebersihan diri dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer.

    Alwiati mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak napas maupun gangguan pernapasan lainnya.

    Warga yang mengalami keluhan tersebut diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan, terutama anak-anak, lansia, dan kelompok masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu.

    "Pencegahan harus dilakukan sejak dini. Mari kita jaga kesehatan bersama, waspada terhadap ISPA dan lindungi diri serta keluarga dari dampak buruk kabut asap," pungkasnya.