Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Film “Makin Ditekan, Makin Melawan” Tayang Perdana di Kaltim

Nobar film dokumenter Makin Ditekan, Makin Melawan” Perdana Tayang di Samarinda, Kaltim di lingkungan Universitas Mulawarmam. (Foto: Herdi/Pusaranmedia.com)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Timur

    Film “Makin Ditekan, Makin Melawan” Tayang Perdana di Kaltim

    PusaranMedia.com

    Nobar film dokumenter Makin Ditekan, Makin Melawan” Perdana Tayang di Samarinda, Kaltim di lingkungan Universitas Mulawarmam. (Foto: Herdi/Pusaranmedia.com)

    Film “Makin Ditekan, Makin Melawan” Tayang Perdana di Kaltim

    Nobar film dokumenter Makin Ditekan, Makin Melawan” Perdana Tayang di Samarinda, Kaltim di lingkungan Universitas Mulawarmam. (Foto: Herdi/Pusaranmedia.com)

    Reporter: Herdiansyah l Editor: Bambang Irawan 

    SAMARINDA - Film dokumenter “Makin Ditekan, Makin Melawan” karya sutradara Faiz Benshadeq mengupas dugaan pola kriminalisasi terhadap aktivis dan peserta aksi demonstrasi di Indonesia.

    Film tersebut menyoroti sejumlah kasus yang terjadi setelah gelombang demonstrasi besar pada Agustus 2025 lalu.

    Film dokumenter ini untuk pertama kalinya diputar di lingkungan kampus Universitas Mulawarman (Unmul), tepatnya di Fakultas Hukum Unmul, Samarinda, Selasa (8/9/2026).

    Kegiatan nonton bareng (nobar) itu digelar oleh Kementerian Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) BEM Fakultas Hukum Unmul.

    Nobar ini juga sekaligus menjadi bagian dari momentum September Hitam 2026 serta bentuk pengenalan dan promosi terhadap kerja-kerja advokasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).

    Kabid Kastrat BEM FH Unmul, Fauzan, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk menonton film dokumenter, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan diskusi mengenai kondisi kebebasan berekspresi serta tindakan aparat terhadap kelompok masyarakat yang menyampaikan aspirasi.

    “Film ini menggambarkan kasus-kasus penangkapan dan dampaknya terhadap kondisi psikologis para aktivis akibat tindakan aparat penegak hukum terhadap mereka yang menyuarakan keadilan untuk masyarakat,” kata Fauzan, sapaannya 

    Salah satu narasumber yang ditampilkan dalam film tersebut adalah Khariq Anhar, aktivis yang mengaku mengalami kekerasan ketika ditangkap.

    Film itu juga memuat data mengenai jumlah orang yang ditangkap setelah aksi demonstrasi. Dalam film disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tercatat 6.719 orang ditangkap dan 703 di antaranya menjalani proses pengadilan.

    Dalam film tersebut, lanjut dia, ditampilkan juga jumlah tahanan politik terbesar sejak era Reformasi dan bahkan melampaui angka yang disebut terjadi pada masa Orde Baru pada 1994, yakni sekitar 350 orang.

    Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama sejumlah peserta. Salah satu pemantik diskusi merupakan tahanan politik asal Samarinda, termasuk Rian.

    Fauzan menambahkan, bahwa pemutaran film ini juga menjadi pengingat bahwa persoalan represivitas terhadap aktivis masih menjadi perhatian serius.

    “Film dokumenter ini juga sebagai pengingat bahwa aparat saat ini represif terhadap aktivis,” singkatnya. 

    Melalui nobar dan diskusi tersebut, BEM FH Unmul berharap isu mengenai kebebasan menyampaikan pendapat, perlindungan terhadap aktivis serta dugaan kriminalisasi pascaaksi dapat terus dibicarakan di ruang publik, khususnya di lingkungan kampus.