Logo
Pusaran Dewan Pers
Iklan

Konsulat RI Tawau Bidik Peluang Bisnis di Lahad Datu dan Kunak

Kepala KRI Tawau Dino Nurwahyudin saat mengunjungi salah satu lab pengolahan hasil perikanan di Kunak, Sabah - Malaysia (Foto: KRI Tawau)

BERITA TERKAIT

    Kalimantan Utara

    Konsulat RI Tawau Bidik Peluang Bisnis di Lahad Datu dan Kunak

    PusaranMedia.com

    Kepala KRI Tawau Dino Nurwahyudin saat mengunjungi salah satu lab pengolahan hasil perikanan di Kunak, Sabah - Malaysia (Foto: KRI Tawau)

    Konsulat RI Tawau Bidik Peluang Bisnis di Lahad Datu dan Kunak

    Kepala KRI Tawau Dino Nurwahyudin saat mengunjungi salah satu lab pengolahan hasil perikanan di Kunak, Sabah - Malaysia (Foto: KRI Tawau)

    Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan

    NUNUKAN - Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau, Malaysia, terus membuka ruang baru bagi penguatan hubungan ekonomi Indonesia-Sabah. Salah satunya melalui pertemuan langsung dengan pelaku usaha di Lahad Datu dan Kunak, dua kawasan ekonomi penting di wilayah Sabah setelah Tawau.

    Kepala KRI Tawau Dino Nurwahyudin mengatakan, pertemuan tersebut dilakukan untuk memperkuat komunikasi antarpelaku usaha sekaligus memetakan peluang kerja sama bisnis yang dapat dikembangkan antara Indonesia dan Sabah.

    Dalam pertemuan dengan Lahad Datu Chinese Chamber of Commerce (LD.CCC), President LD.CCC Tan Cheng Teng menyampaikan bahwa organisasi tersebut menaungi lebih dari 300 pelaku usaha keturunan Tionghoa yang bergerak di berbagai sektor.

    Sektor perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu bidang usaha yang dominan, disusul perikanan, pertanian, perdagangan ritel dan konstruksi.

    Menurut Dino, para pelaku usaha di Lahad Datu juga menunjukkan ketertarikan untuk meningkatkan hubungan bisnis dengan mitra usaha dari Indonesia. Bahkan, sejumlah anggota LD.CCC telah menjalankan aktivitas ekspor dan impor dengan Indonesia.

    “Beberapa anggota sudah melakukan kegiatan ekspor-impor dengan Indonesia. Namun, konektivitas menjadi salah satu kendala utama untuk meningkatkan kerja sama bisnis,” kata Dino.

    Selain Lahad Datu, KRI Tawau juga melakukan pertemuan dengan Kunak Chinese Chamber of Commerce (Kunak.CCC). President Kunak.CCC Pong Kim Wai menyebut terdapat sekitar 100 pengusaha keturunan Tionghoa yang menjalankan usaha di kawasan tersebut.

    Dino menjelaskan, Kunak memiliki posisi strategis karena berada di antara Tawau dan Lahad Datu. Struktur ekonomi daerah tersebut masih banyak ditopang sektor perkebunan kelapa sawit.

    Di sisi lain, Pemerintah Daerah Kunak tengah melakukan penataan sejumlah destinasi wisata yang dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru.

    “Kerja sama bisnis dengan Indonesia relatif masih terbatas. Meski demikian, mereka membuka pintu apabila terdapat peluang bisnis potensial yang dapat dikembangkan bersama,” ujarnya.

    Dino mengakui, hubungan bisnis antara pelaku usaha Indonesia dengan pengusaha di Lahad Datu dan Kunak selama ini belum berkembang secara optimal. Karena itu, komunikasi langsung dinilai penting untuk membangun kepercayaan sekaligus mempertemukan kebutuhan dan potensi usaha dari kedua pihak.

    “Dalam dunia bisnis, trust atau kepercayaan merupakan kunci utama keberhasilan dalam menjalankan aktivitas bisnis,” katanya.

    Untuk membuka akses tersebut, KRI Tawau mendorong pelaku usaha dari Lahad Datu dan Kunak memanfaatkan ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang akan digelar di Tangerang pada 14–18 Oktober 2026.

    Menurut Dino, kehadiran langsung dalam TEI 2026 akan memberikan kesempatan kepada pengusaha Sabah untuk bertemu dan berdialog dengan pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia.

    Sebelum pelaksanaan TEI 2026, KRI Tawau juga akan menggelar seminar investasi pada 21 September 2026 di Hotel Emas, Tawau. Kegiatan tersebut akan menghadirkan Atase Perdagangan KBRI Kuala Lumpur serta pejabat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

    “Mereka yang mengetahui secara komprehensif bagaimana melakukan kegiatan bisnis dan berinvestasi di Indonesia. Pelaku bisnis yang kami temui di Lahad Datu maupun Kunak menyambut baik dan menyampaikan akan hadir pada kedua kegiatan tersebut,” jelas Dino.

    Selain melakukan pertemuan bisnis, delegasi KRI Tawau juga mengunjungi sejumlah perusahaan untuk melihat secara langsung potensi sektor usaha di Sabah.

    Salah satunya Hap Fatt Marine, perusahaan yang bergerak dalam penyediaan, pengolahan, ekspor, dan perdagangan grosir produk makanan laut segar dan beku. Produk yang dipasarkan antara lain ikan, cumi-cumi dan udang.

    Produk Hap Fatt Marine tidak hanya dipasarkan di Semenanjung Malaysia, Sabah dan Sarawak, tetapi juga telah menembus sejumlah pasar internasional, termasuk China, Indonesia, Filipina, Vietnam, serta negara-negara lain di Asia Tenggara.

    Perusahaan tersebut juga tercatat sebagai penerima Golden Bull Award 2023 dan memperoleh penghargaan Asia Honesty Awards 2025.

    Kunjungan lapangan kemudian dilanjutkan ke Nancy's Farmville, usaha pertanian yang mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan dan produksi buah-buahan premium.

    Nancy's Farmville dikenal sebagai salah satu penghasil avokad varietas OAVI yang dikembangkan melalui kajian Jabatan Pertanian Sabah. Selain avokad, usaha pertanian tersebut juga menghasilkan sejumlah komoditas, seperti nangka J33, cempedak, markisa, serta jambu batu tanpa biji atau seedless/crystal guava.

    Dino menilai berbagai potensi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang kerja sama ekonomi yang lebih luas antara Indonesia dan Sabah, khususnya dengan pelaku usaha di Lahad Datu dan Kunak.

    “Melalui pertemuan langsung dengan para pelaku bisnis di Lahad Datu dan Kunak, Konsulat RI Tawau berharap potensi kerja sama ekonomi dapat terus ditingkatkan. Hubungan erat antara masyarakat Indonesia dan Sabah yang telah terjalin selama puluhan tahun dapat menjadi modal utama untuk memperkuat kerja sama tersebut,” pungkasnya.