Reporter: Lodya Astagina | Editor: Supiansyah
TENGGARONG - Pengamat budaya, Awang Rifani kembali meyakinkan bahwa bahasa Kutai itu berangsur-angsur punah. Bahkan, kepunahan itu sejatinya sudah mulai terjadi sejak era 90-an.
Salah satu contohnya penyebutan kakek. Orang Kutai Tenggarong khususnya, saat ini menyebut kakek dengan kata kaik. Kaik sendiri berasal dari bahasa Banjar, Kalimantan Selatan.
Padahal kakek dalam bahasa Kutai ialah nenek atau minak laki. “Kalaupun ada hanya sedikit yang menggunakan nenek laki atau nenek bini untuk yang perempuan. Tapi kalau minak, sudah tidak ada lagi,” jelas Awang, Kamis (10/12/2020).
Selain itu, ada contoh kosa kata lain yang kini jarang dan bahkan tak pernah terdengar lagi. Seperti tuwala yang berganti menjadi handuk, uda atau busu yang lebih familiar dengan sebutan om.
Kemudian kdera yang lebih sering disebut kursi/bangku, jenggan/luruh yang lebih populer dengan sebutan rumah, serta luah yang lebih sering diucapkan loa, berikut peluluk yang telah berganti menjadi serbet.
Menurut dosen Universitas Kutai Kartanegara ini, kalangan pendatang menjadi salah satu faktor dibalik lenyapnya sejumlah kosa kata itu. Kondisi ini ditambah dengan generasi muda Kutai yang lebih senang menggunakan bahasa slang atau bahasa musiman.

